Alhamdulillah... Pembelajaran Tematik kelas 1 sudah selesai di tema 8. Anak-anak kelas 1 belajar tentang Peristiwa Alam. Di tema ini anak-anak mengenal perbedaan pagi, siang, sore dan malam dengan ciri-ciri yang biasa mereka lihat atau temui. Kemudian mengenal 2 musim yang ada di indonesia (kemarau dan hujan) beserta dampak atau akibat yang bisa terjadi jika kemarau atau hujan berkepanjangan.
Salah satu dampak yang terjadi akibat hujan terus menerus adalah banjir. Anak-anak di perlihatkan gambar dan tayangan pengungsi akibat banjir. Untuk menolong korban banjir biasanya Menggunakan Perahu Karet.
Setelah mengenal dampak musim yang terjadi di Indonesia, bu guru mengajak anak-anak untuk berkreasi membuat kapal penyelamat. Bu guru menyampaikan alat dan bahan yang diperlukan, yaitu :
2 buah botol mineral bekas, Selotip, Kardus bekas, Kertas warna, Tusuk satai. Anak-anak diminta menyiapkan alat dan bahannya.
Kegiatan berkreasi dimulai dengan penjelasan bu guru cara membuatnya. Dua botol disatukan dan direkatkan dengan Selotip. Kemudian, botol direkatkan dengan potongan kardus bekas. Selanjutnya anak-anak diminta Membuat layar Dari kertas warna yang ditempelkan pada bagian atas tusuk satai. Setelah itu dipasangkan pada bagian tengah potongan kardus. Lalu Perahu bisa dihias agar lebih menarik.
"Bu, punya aku sudah Jadi!" seru seorang anak. "Aku juga sudah, siap berlayar!" seru yang lain tak mau kalah. "Bu guru, nanti boleh kita coba berlayar di kolam?" tanya seorang anak. "Tentu saja!" Bu guru mengiyakan. "Hore, asyik!!" semua anak berseru kegirangan.
Setelah semua selesai membuat, bu guru mengajak anak-anak untuk mencoba di kolam depan sekolah. Maasyaallah... Semua anak tampak antusias dan gembira. Apalagi saat Perahu mereka berhasil berlayar di air. "Bu, punya aku tidak tenggelam, bisa berlayar!" lapor seorang anak. Anak-anak yang lain pun tak mau kalah untuk mencoba dan bercerita pengalamannya.
Alhamdulillah.. Anak-anak tampak senang sudah bisa membuat kreasi kapal penyelamat. Merekapun berencana akan memainkannya di rumah nanti.
Selasa, 14 Juni 2022
Jumat, 03 Juni 2022
Prakarya dari Kulit Jagung
Hari Senin lalu, Bu Dewi membagikan kulit jagung di kelas. Lho, kok Bu Dewi??! Iya, Bu dewi, wali kelas 2A. Beliau menggantikan Bu Ida yang tidak masuk karena sedang menunggui putrinya dirawat di rumah sakit.
Kulit jagungnya
sekarung, lho! Kami semua diminta mengambil masing-masing.
“Nanti di rumah
dipotong ujung-ujungnya, ya. Lalu dijemur. Nanti hari Kamis dibawa lagi ke
sekolah.” Begitu perintah dari Bu Dewi.
Aku mengambil
satu. Begitu juga teman-temanku yang lain. Tapi... Ada yang membuang kulit jagungnya, lho! Temanku ini menangis gara-gara di kulit jagungnya ada semut. Hihi.. Lucu, ya! Ah,
bairkan sajalah. Nanti kan dia sendiri yang rugi kalau Kamis tidak membawa.
Sesampainya di
rumah, kulit jagung itu langsung kupotong ujung-ujungnya dan kujemur. Tapi...
Cuaca kurang bersahabat. Mendung. Besok lagi sajalah jemurnya.
Ketika hari
Selasa, aku lupa meminta bantuan Bunda untuk menjemur. Akunya kan sekolah. Tapi
tak apa. Kan ini tugas aku. “Selama bisa dan tidak berbahaya, lakukan sendiri,
ya.” Begitu Bu Ida sering bilang. Untung hari Rabu libur, jadi aku bisa
menjemur kulit jagungku. Alhamdulillah kering, tapi... Kok merintil-merintil?
Memang begini, mungkin...
Hari Kamis pagi,
seperti biasa aku sekolah. Wah... Sudah tiga hari tidak bertemu Bu Ida, nih.
Aku rindu. Bahkan ada temanku yang sepertinya cemas dan gugup kalau Bu Ida
tidak ada. Kasihan.
“Assalaamu’alaykum!”
Suara lantang di pintu seperti aku kenal.
“Ye... Bu Ida!”
Kami semua bersorak dan lari menuju Bu Ida. Kami peluk beliau. Beliau pun balas
memeluk kami. Wah kalau ke anak-anak putri meluknya erat sekali sepertinya.
“Bu Ida rindu
kalian” Lantang Bu Ida berbicara.
“Kita juga, Bu.”
Seru kami hampir bersamaan.
“ Ok, bawa kulit
jagungnya? Silakan keluarkan! Kita akan membuat prakarya dari kulit jagung ini,
ya.” Pertama, pikirkan kalian akan membuat apa. Kemudian gambar di kertas,
gunting, lalu jiplak di kulit jagung seperti ini. Setelahnya baru tempel di
kertas karton hitam ini. Jreng jreng... Jadi!” Begitu Bu Ida memberikan
intruksi.
Tapi, ada
seseorang yang kemudian mendekati Bu Ida. Berbisik ke Bu Ida. Kemudian, “Wah,
Bu Ida senang ada murid Bu Ida yang mau
berbagi. Ada yang kulit jagungnya hilang, eh ada temannya yang mau berbagi. MasyaaAllah.
Semoga Allah jadikan kalian anak-anak yang suka berbagi.” Kata Bu Ida lagi. Oh,
ternyata itu. Eh, yang tidak mengambil kulit jagung waktu hari Senin, kok
sekarang bawa?
“Lemnya ada di
depan, ya. Yang mau ngelem ke depan saja!” teriak Bu Ida lagi.
Kami pun asyik
dengan tugas kami. Membuat gambar di kertas, mengguntingnya, mencetak di kulit
jagung, mengguntingnya, lalu menempel di kertas karton hitam. Dan..., selesai. Alhamdulillaah.
Senin, 16 Mei 2022
Melukis Layangan
Pada pembelajaran sebelumnya anak-anak kelas 1 belajar Bahasa Sunda dengan tema permaianan tradisional. Salah satunya adalah permainan layang-layang, atau dalam Bahasa Sunda disebut 'langlayangan'. Dari layang-layang ini anak-anak belajar mengenal bentuk layang-layang, bahan dasar membuat layang-layang, hingga cara membuatnya.
Berbeda dari kegiatan pembelajaran sebelumnya, anak-anak hanya belajar membuat kreasi layang-layang dari kertas lipat saja, kali ini anak-anak diminta untuk melukis diatas layang-layang sesuai dengan keinginan dan kreativitasnya. Setiap anak mendapatkan satu layang-layang, dan diberi cat air dan kuas untuk bahan dan alat melukisnya.
Berbagai kreativitas mereka ekspresikan lewat lukisan. Ada yang membuat mobil, rumah, wajah, pemandangan, dan ada juga yang hanya mengkombinasikan warna dalam lukisannya. Setelah layangan dilukis, layangan-layangan tersebut lalu dijemur terlebih dahulu.
Pada kegiatan kali ini, anak diberikan kebebasan dalam mengekspresikan kreativitasnya. Tidak dibatasi untuk melukis suatu benda, hewan, rumah atau yang lainnya. Disinilah anak belajar untuk menyelaraskan warna, bentuk, maupun ukuran. Bagaimana membuat atap rumah yang tidak lebih besar dari rumahnya.
Bagaimana bentuk dari sebuah mobil, bagaimana mengkombinasikan warna-warna agar terlihat indah dan membuatnya menjadi sebuah gradasi warna. Kematangan motorik halus juga dapat terlihat ketika anak-anak sedang melukis di atas layangan. Layangan yang terbuat dari kertas wajik, bahannya yang cukup tipis menjadi tantangan untuk mereka. Bagaimana memberikan penekanan saat melukis, menggunakan air untuk membersihkan kuas dari warna sebelumnya agar tidak tercampur dengan warna yang akan digunakan selanjutnya.
Jika terlalu banyak air yang tersisa dalam kuas dan melakukan penekanan terlalu besar saat melukis, maka kertas layangan akan mudah sobek. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian dan kematangan motorik halus dalam melukis layangan ini.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)



.jpeg)





.jpeg)







.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


